Penyakit Mematikan Tanpa Gejala
Demam Lassa
Demam Lassa adalah demam hemorrhagic virus yang pertama kali dideskripsikan tahun 1969 di kota Lassa, Nigeria. Dasar dari demam Lassa tampaknya melibatkan penularan virus secara enzimatik pada populasi komensal dari satu spesies murine, yaitu Mastomys natalensis. Virus dapat menyebar dari siklus hewan pengerat (tikus) ke manusia melalui berbagai rute. Penyebaran sekunder antara manusia dapat terjadi dalam kelompok-kelompok domisiliary, dan orang-orang yang terinfeksi dalam komunitas yang mengembangkan penyakit klinis dapat memasukkan virus ke rumah sakit dan memulai siklus infeksi nosokomial. Lassa hampir sama dengan Marburg dan Ebola, 2 virus mematikan lainnya yang menyebabkan infeksi dengan demam, muntah, bahkan hemorrhagic.
Penyebaran virus Lassa pada manusia bisa melalui kontak dengan makanan, barang-barang rumah tangga yang terkontaminasi dengan air kencing atau kotoran tikus atau cairan tubuh dari orang yang terinfeksi melalui saluran pernafasan dan saluran cerna, kulit yang luka atau selaput lendir ke bahan yang terinfeksi, kontak langsung, seksual dan transplasental.
Penyakit Demam Lassa memang belum begitu dikenal di Indonesia. Namun dikhawatirkan bisa juga menjadi wabah mengingat hewan pembawa virus ini adalah tikus yang juga banyak dan menyumbang penyakit Zoonosis (penyakit menular dari hewan ke manusia) di Indonesia.
Gejala yang Perlu Diperhatikan
Pada 80 persen kasus yang terjadi, demam Lassa tidak menunjukkan gejala yang berarti. Gejala umum yang biasanya muncul, meliputi:
Sedangkan pada tahapan yang lebih serius atau tahapan akhir dari penyakit Lassa bisa muncul gejala lainnya yang lebih parah lagi, misalnya dengan munculnya:
Itulah beberapa gejala dari demam Lassa mulai dari gejala yang ringan hingga gejala yang berat dan serius yang perlu diketahui.
Pencegahan
Pencegahan demam Lassa dilakukan dengan mempromosikan tentang “kebersihan masyarakat” untuk mencegah tikus masuk rumah. Tindakan-tindakan efektif termasuk menyimpan gandum dan bahan makanan lainnya. dalam kemasan ,pembuangan sampah jauh dari rumah, menjaga rumah tangga bersih dan memelihara kucing.penjaga.
Pengobatan dan profilaksis
Ribavirin obat antivirus adalah pengobatan yang efektif untuk demam Lassa jika diberikan pada awal perjalanan penyakit klinis. Tidak ada bukti untuk mendukung peran ribavirin sebagai pengobatan profilaksis pasca pajanan untuk demam Lassa.
Pengendalian infeksi
Anggota keluarga dan petugas layanan kesehatan harus selalu berhati-hati untuk menghindari kontak dengan darah dan cairan tubuh sambil merawat orang sakit. pencegahan dengan menggunakan pelindung untuk perawat harus dilakukan secara Rutin terhadap penularan virus Lassa. Namun, untuk keselamatan sebaiknya pasien yang diduga demam Lassa harus dirawat di diruangan khusus “tindakan isolasi,” yang meliputi mengenakan pakaian pelindung seperti masker, sarung tangan, gaun, dan perisai wajah, dan sistematis sterilisasi peralatan yang terkontaminasi.
Kita berharap demam Lassa ini tidak menjadi permasalahan di Indonesia ini. Cara yang paling efektif untuk mencegah demam lassa ini adalah dengan berperilaku bersih dan Sehat. Dan semoga kita tidak ada yang terjangkit demam lassa ini..
Demam Lassa adalah demam hemorrhagic virus yang pertama kali dideskripsikan tahun 1969 di kota Lassa, Nigeria. Dasar dari demam Lassa tampaknya melibatkan penularan virus secara enzimatik pada populasi komensal dari satu spesies murine, yaitu Mastomys natalensis. Virus dapat menyebar dari siklus hewan pengerat (tikus) ke manusia melalui berbagai rute. Penyebaran sekunder antara manusia dapat terjadi dalam kelompok-kelompok domisiliary, dan orang-orang yang terinfeksi dalam komunitas yang mengembangkan penyakit klinis dapat memasukkan virus ke rumah sakit dan memulai siklus infeksi nosokomial. Lassa hampir sama dengan Marburg dan Ebola, 2 virus mematikan lainnya yang menyebabkan infeksi dengan demam, muntah, bahkan hemorrhagic.
Penyebaran virus Lassa pada manusia bisa melalui kontak dengan makanan, barang-barang rumah tangga yang terkontaminasi dengan air kencing atau kotoran tikus atau cairan tubuh dari orang yang terinfeksi melalui saluran pernafasan dan saluran cerna, kulit yang luka atau selaput lendir ke bahan yang terinfeksi, kontak langsung, seksual dan transplasental.
Penyakit Demam Lassa memang belum begitu dikenal di Indonesia. Namun dikhawatirkan bisa juga menjadi wabah mengingat hewan pembawa virus ini adalah tikus yang juga banyak dan menyumbang penyakit Zoonosis (penyakit menular dari hewan ke manusia) di Indonesia.
Gejala yang Perlu Diperhatikan
Pada 80 persen kasus yang terjadi, demam Lassa tidak menunjukkan gejala yang berarti. Gejala umum yang biasanya muncul, meliputi:
- Demam
- Sakit tenggorokan
- Sakit perut
- Mual
- Muntah
- Diare
- Sakit kepala
- Merasa kelelahan
- Pembengkakan kelenjar getah bening pada leher
Sedangkan pada tahapan yang lebih serius atau tahapan akhir dari penyakit Lassa bisa muncul gejala lainnya yang lebih parah lagi, misalnya dengan munculnya:
- Kejang
- Shock
- Tremor
- Disorientasi bahkan hingga koma
- Kehilangan pendengaran atau tuli, yang bisa terjadi pada sekitar 25% kasus yang muncul pafa masa penyembuhan. Masa penyembuhan ini terjadi setelah 1 hingga 3 bulan
- Gangguan gaya berjalan dan terjadi rambut rontok juga bisa terjadi selama masa pemulihan
Itulah beberapa gejala dari demam Lassa mulai dari gejala yang ringan hingga gejala yang berat dan serius yang perlu diketahui.
Pencegahan
Pencegahan demam Lassa dilakukan dengan mempromosikan tentang “kebersihan masyarakat” untuk mencegah tikus masuk rumah. Tindakan-tindakan efektif termasuk menyimpan gandum dan bahan makanan lainnya. dalam kemasan ,pembuangan sampah jauh dari rumah, menjaga rumah tangga bersih dan memelihara kucing.penjaga.
Pengobatan dan profilaksis
Ribavirin obat antivirus adalah pengobatan yang efektif untuk demam Lassa jika diberikan pada awal perjalanan penyakit klinis. Tidak ada bukti untuk mendukung peran ribavirin sebagai pengobatan profilaksis pasca pajanan untuk demam Lassa.
Pengendalian infeksi
Anggota keluarga dan petugas layanan kesehatan harus selalu berhati-hati untuk menghindari kontak dengan darah dan cairan tubuh sambil merawat orang sakit. pencegahan dengan menggunakan pelindung untuk perawat harus dilakukan secara Rutin terhadap penularan virus Lassa. Namun, untuk keselamatan sebaiknya pasien yang diduga demam Lassa harus dirawat di diruangan khusus “tindakan isolasi,” yang meliputi mengenakan pakaian pelindung seperti masker, sarung tangan, gaun, dan perisai wajah, dan sistematis sterilisasi peralatan yang terkontaminasi.
Kita berharap demam Lassa ini tidak menjadi permasalahan di Indonesia ini. Cara yang paling efektif untuk mencegah demam lassa ini adalah dengan berperilaku bersih dan Sehat. Dan semoga kita tidak ada yang terjangkit demam lassa ini..

Comments
Post a Comment